Yogyakarta – Representasi gender dalam media seringkali menjadi cerminan sekaligus pembentuk cara pandang masyarakat. Merespons tantangan ini, Prof. Alimatul Qibtiyah, Dosen Prodi S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga, meluncurkan sebuah karya baru berjudul “Media, Gender, dan Feminisme di Indonesia“. Buku ini merupakan bunga rampai yang merangkum tulisan-tulisan terbaik dari para mahasiswa S2 KPI pada mata kuliah Media dan Gender yang diampunya. Dalam karya kolektif ini, Prof. Alimatul Qibtiyah berperan sebagai penulis utama sekaligus editor.
Acara peluncuran dan bedah buku tersebut dilaksanakan pada Jumat, 19 September 2025, bertempat di Taman Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga. Berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, kegiatan ini menjadi sebuah forum diskusi kritis untuk menyelami berbagai gagasan yang tertuang dalam buku, yang lahir dari ruang kelas akademik.
Dalam sesi bedah buku, karya ini dikupas secara mendalam oleh dua pembahas, yaitu Prof. Dr. Marhumah, M.Pd, pakar ilmu hadis dengan fokus pada aspek gender dan pendidikan Islam; dan Dr. Abdur Rozaki, M.Si, ahli bidang pengembangan masyarakat Islam sekaligus Wakil Rektor 3 UIN Sunan Kalijaga. Keduanya memberikan perspektif komprehensif terhadap kumpulan tulisan mahasiswa yang telah dikurasi oleh Prof. Qibtiyah, memberikan apresiasi sekaligus masukan kritis terhadap gagasan-gagasan yang diangkat.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Dr. Zusiana Elly Triantini, M.Si, yang menggarisbawahi pentingnya inisiatif akademis seperti ini dalam memperkaya literatur tentang media dan gender di Indonesia. Kehadiran para akademisi dan mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi terhadap produk pemikiran yang lahir dari kolaborasi antara dosen dan mahasiswa.
Sebagai sebuah bunga rampai, buku “Media, Gender, dan Feminisme di Indonesia” tidak hanya menampilkan gagasan di tataran wacana, tetapi juga suara-suara kritis dari para mahasiswa pascasarjana. Karya ini diharapkan dapat menjadi referensi penting sekaligus inspirasi bagi akademisi, praktisi media, dan masyarakat luas untuk lebih peka dalam mencermati dan membongkar bias gender yang kerap tersembunyi dalam pemberitaan maupun konten media lainnya.



